Mengapa Islam Harus Berpihak? Membaca Ali Syari‘ati Hari Ini
Deskripsi Singkat
Islam di Indonesia tampil kuat di ruang publik: masjid megah berdiri di mana-mana, dakwah mengalir deras di berbagai platform, dan simbol keislaman semakin menonjol. Namun, di balik wajah religius itu, ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, dan keterpinggiran kelompok lemah masih menjadi realitas yang sulit diabaikan. Di sinilah pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah Islam cukup hadir sebagai simbol kesalehan, atau ia harus berpihak secara nyata pada keadilan sosial? Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa misi kenabian adalah menegakkan keadilan dan membela kaum tertindas. Pesan ini sejalan dengan kritik Ali Syari‘ati, pemikir Muslim Iran, yang mengingatkan bahwa agama kehilangan ruh profetiknya ketika berhenti berpihak pada manusia yang tertindas. Bagi Ali Syari‘ati, Islam tidak boleh berhenti pada ritual dan wacana, tetapi harus menjadi kesadaran yang mendorong perubahan sosial. Dalam konteks Indonesia, kritik ini terasa relevan. Keberagamaan sering kali hadir sebagai penenang sosial, bukan sebagai kekuatan moral yang menggugat ketidakadilan. Ketika agama dijauhkan dari keberpihakan, ia berisiko dijinakkan oleh kekuasaan. Artikel ini mengajak pembaca meninjau kembali peran Islam dan kaum intelektual Muslim: merawat Islam bukan sekadar sebagai identitas, melainkan menghidupkannya sebagai kekuatan pembebasan dan keadilan.
Di Indonesia, Islam hadir begitu kuat di ruang publik. Masjid berdiri megah, dakwah mengalir deras di berbagai platform digital, dan identitas keislaman semakin terlihat. Namun, di saat yang sama, kita menyaksikan realitas yang mengusik nurani: ketimpangan sosial yang kian lebar, kemiskinan struktural yang tak kunjung usai, serta suara kaum kecil yang sering kali tenggelam dalam hiruk-pikuk wacana.
Di titik inilah pertanyaan mendasar perlu diajukan adalah apakah Islam cukup hadir sebagai simbol kesalehan, atau ia harus berpihak pada keadilan sosial?
Pertanyaan ini sejatinya bukan hal baru. Seorang pemikir Muslim Iran, Ali Syari‘ati, sejak lama mengingatkan bahwa agama termasuk Islam, kehilangan ruhnya ketika ia berhenti berpihak pada manusia yang tertindas.
Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa misi kehadiran para nabi adalah menegakkan keadilan. Allah berfirman:
لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌࣖ ٢٥
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS Al-Hadid: 25).
Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan sosial bukan aksesoris dalam Islam, melainkan tujuan utama risalah. Inilah titik temu antara pesan Al-Qur’an dan pembacaan kritis Ali Syari‘ati terhadap realitas umat.
Bagi Ali Syari‘ati, Islam tidak boleh berhenti sebagai agama ritual atau sekadar tradisi budaya. Ia harus hadir sebagai kesadaran ideologis, yakni kesadaran yang mendorong perubahan sosial dan keberpihakan kepada yang lemah.
Salah satu gagasan penting Ali Syari‘ati adalah model kerucut sosial. Dalam kerangka ini, masyarakat digambarkan sebagai struktur bertingkat.
Di lapisan bawah terdapat masyarakat awam, kelompok mayoritas yang sering kali hidup dalam keterbatasan ekonomi dan akses pengetahuan. Mereka bukan tidak beriman, tetapi kerap tidak memiliki perangkat kesadaran kritis untuk membaca ketidakadilan yang membelenggu hidupnya.
Di lapisan tengah hingga atas terdapat kaum intelektual, yang oleh Ali Syari‘ati disebut rausyan fikr (intelektual tercerahkan). Mereka inilah yang seharusnya menjadi penghubung antara nilai-nilai Islam dan realitas sosial.
Ali Syari‘ati menegaskan bahwa intelektual tidak boleh netral. Dalam salah satu ungkapannya yang terkenal, ia menyatakan:
“Intelektual adalah orang yang merasakan penderitaan masyarakatnya, memikirkannya, dan merasa bertanggung jawab untuk mengubahnya.” (Ali Syari‘ati, Mission of a Free Thinker, Teheran: Hosseiniyeh Ershad Publications, 1971, hlm. 34).
Masalah muncul ketika kaum intelektual justru berhenti pada wacana, sibuk dengan diskursus akademik atau popularitas simbolik, tetapi menjauh dari realitas umat. Dalam kondisi seperti ini, Islam berisiko berubah menjadi bahasa langit yang tidak lagi menyentuh bumi.
Jika model kerucut sosial ini kita baca dalam konteks Indonesia, kritik Ali Syari‘ati terasa amat relevan.
Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim, tetapi ketimpangan sosial dan ekonomi masih menjadi kenyataan sehari-hari. Banyak kelompok masyarakat, baik buruh, petani, nelayan, dan masyarakat pinggiran kota, yang secara kultural religius, tetapi secara struktural berada dalam posisi rentan. Mereka berada di lapisan dasar kerucut sosial, yaitu menjadi objek kebijakan, bukan subjek perubahan.
Dalam situasi seperti ini, Islam sering kali hadir melalui narasi kesabaran, keikhlasan, dan penerimaan atas nasib. Nilai-nilai ini tentu penting secara spiritual, namun menjadi problematis ketika tidak disertai keberanian moral untuk menyebut ketidakadilan sebagai kezaliman struktural.
Lebih jauh, tidak jarang kritik sosial atas ketimpangan justru dicurigai sebagai ancaman stabilitas. Atas nama ketertiban dan persatuan, suara yang berbeda diredam, dan sebagian otoritas keagamaan ikut menenangkan umat agar “tidak gaduh”. Dalam kondisi ini, agama berfungsi lebih sebagai peredam kegelisahan sosial, bukan sebagai penggerak perubahan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana Islam, dalam praktik tertentu, dijinakkan oleh kekuasaan, dibiarkan hidup dan berkembang selama tidak menggugat struktur yang timpang. Simbol-simbol keislaman dirawat, dakwah dimuliakan, tetapi keberpihakan terhadap kaum tertindas justru dihindari.
Ali Syari‘ati telah lama mengingatkan bahaya situasi semacam ini. Ia menyebutnya sebagai agama yang kehilangan fungsi profetiknya. Dalam ungkapan kritisnya, ia menulis:
“Agama yang tidak membebaskan manusia dari penindasan, pada akhirnya akan menjadi alat pembenaran bagi penindasan itu sendiri.” (Ali Syari‘ati, On the Sociology of Islam, Berkeley: Mizan Press, 1979, hlm. 87).
Kritik ini tidak ditujukan kepada Islam sebagai ajaran, melainkan pada cara Islam dikelola dan dipraktikkan oleh kaum intelektual dan elite keagamaan yang seharusnya menjalankan peran sejarahnya.
Keberpihakan dalam Islam bukan berarti menjadikan agama sebagai alat konflik, melainkan meneguhkan posisi moral di tengah ketidakadilan. Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاۤءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ اَهْلُهَاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ نَصِيْرًا ٧٥
Artinya: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (QS An-Nisa’: 75).
Ayat ini menegaskan bahwa keberpihakan kepada kaum mustadh‘afin adalah bagian dari iman. Dalam semangat inilah Ali Syari‘ati menyatakan bahwa krisis terbesar umat bukan sekadar kemiskinan material, tetapi matinya kesadaran kritis.
Ungkapan terkenalnya patut direnungkan kembali:
“Kemiskinan bukanlah semalam tanpa makanan, tetapi sehari tanpa berpikir.” (Ali Syari‘ati, Reflections of Humanity, Teheran: Shariati Foundation, 1976, hlm. 112).
Membaca Ali Syari‘ati hari ini berarti menagih kembali tanggung jawab kaum intelektual Muslim Indonesia. Apakah Islam hanya kita rawat sebagai identitas, atau kita hidupkan sebagai kekuatan pembebasan?
Islam yang hidup adalah Islam yang berpihak pada keadilan, pada kemanusiaan, dan pada masa depan umat.
Catatan Penulis:
Catatan Penulis:
Agung Nugroho Reformis Santono adalah mahasiswa doktoral Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Universitas PTIQ Jakarta dan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal dengan Nomor Induk Mahasiswa 241030002 angkatan 5.0. Ia aktif menulis kajian pemikiran Islam, tafsir Al-Qur’an, dan isu-isu keislaman kontemporer di berbagai media. Fokus kajiannya meliputi hermeneutika Al-Qur’an, pemikiran Islam kritis, serta relasi agama dan keadilan sosial.

