Harmoni Akal dan Wahyu: Konstruksi Nalar Teologis dalam Mazhab Maturidiyah
Deskripsi Singkat
Dalam diskursus teologi Islam, sering muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana akal boleh digunakan dalam memahami Tuhan? Narasi yang populer sering kali mempertentangkan dua kutub ekstrem, seolah-olah kita harus memilih antara menjadi rasionalis murni atau tekstualis kaku. Namun, sejarah mencatat bahwa Islam memiliki "jalan ketiga" yang lahir bukan di Baghdad atau Kairo, melainkan di Samarkand. Jalan tersebut dirintis oleh Abu Mansur al-Maturidi. Ia tidak menempatkan akal dan wahyu sebagai musuh, melainkan sebagai mitra yang saling melengkapi. Melalui pendekatan yang harmonis ini, Al-Maturidi membangun sistem teologi yang kokoh. Artikel ini bertujuan membedah struktur pemikiran tersebut, khususnya bagaimana Al-Maturidi merumuskan konsep penciptaan (Takwin) dan memberikan jawaban atas dilema takdir serta kehendak bebas manusia (ikhtiyar) yang masih relevan hingga hari ini.


